Jumat, 08 Mei 2026

Modul 2



 

MODUL 2

PWM,ADC & INTERRUPT

1. Pendahuluan [Kembali]

Pada percobaan pertama dirancang suatu sistem Heart Rate Indikator berbasis mikrokontroler yang memanfaatkan sensor sebagai input untuk mengatur kondisi BPM secara otomatis. Sistem ini menggunakan sensor Heartbeat dan Button sebagai pendeteksi keberadaan aktivitas di sekitar. Mikrokontroler berperan sebagai pusat pengolah data yang menentukan kapan lampu dan buzzer diaktifkan atau dinonaktifkan sesuai dengan kondisi input yang diterima. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memahami konsep dasar pengolahan sinyal digital, logika kontrol berbasis kondisi, serta implementasi sistem otomatis sederhana yang dapat diaplikasikan pada penerangan hemat energi di lingkungan nyata.

Sedangakan pada percobaan kedua bertujuan untuk merancang sistem Jemuran Otomatis dengan memanfaatkan sensor sebagai Itensitas Cahaya objek. Sistem ini menggunakan mikrokontroler untuk membaca sinyal dari sensor dan memberikan keluaran berupa Servo dan sebagai penggerak jemuran kepada pengguna. 

2. Tujuan [Kembali]

  1. Memahami cara penggunaan PWM, ADC, dan Interrupt pada Development Board yang digunakan

  2. Memahami cara menggunakan komponen input dan output yang mengimplementasikan PWM, ADC, dan Interrupt pada Development Board yang digunakan.

3. Alat dan Bahan [Kembali]

    1. STM32G474RE

Microcontroller

STM32G474RE (ARM Cortex-M4F)

Operating Voltage

3.3 V

Input Voltage (recommended)

5 V via USB (ST-LINK) atau 7–12 V via VIN

Input Voltage (limit)

4.5 15 V (VIN board Nucleo)

Digital I/O Pins

±51 GPIO pins (tergantung konfigurasi fungsi)

PWM Digital I/O Pins

Hingga 24 channel PWM (advanced, general-purpose, dan high-resolution timers)

Analog Input Pins

Hingga 24 channel ADC (12-bit / 16-bit dengan oversampling)

DC Current per I/O Pin

Maks. 20 mA per pin (disarankan 8 mA)

DC Current for 3.3V Pin

Hingga ±500 mA (tergantung regulator & sumber daya)

Flash Memory

512 KB internal Flash

SRAM

128 KB SRAM (termasuk CCM RAM)

Clock Speed

Hingga 170 MHz

    2. STM32F103C8

Microcontroller

ARM Cortex-M3

Operating Voltage

3.3 V

Input Voltage (recommended)

5 V

Input Voltage (limit)

2 3.6 V

Digital I/O Pins

32

PWM Digital I/O Pins

15

Analog Input Pins

10 (dengan resolusi 12-bit ADC)

DC Current per I/O Pin

25 mA

DC Current for 3.3V Pin

150 mA

Flash Memory

64 KB

SRAM

20 KB

EEPROM

Emulasi dalam Flash

Clock Speed

72 MHz


    3. Heart Beat Sensor



   

Parameter TeknisSpesifikasi / Nilai
Tegangan Operasi (VCC)3.3V hingga 5V DC
Konsumsi Arus~4 mA
Sinyal OutputAnalog (Berfluktuasi sesuai detak jantung)
Jenis SensorOptik (Photoplethysmography / PPG)
Sumber Cahaya (LED)Hijau (Panjang gelombang ~515 nm)
Komponen UtamaLED hijau, Photodetector (misal APDS-9008), Op-Amp
Dimensi (Diameter)~16 mm (0.625 inci)
Sirkuit Tambahan bawaanSirkuit Amplifikasi (Gain ~330) & Low Pass Filter

    4. Button Latch

Parameter TeknisSpesifikasi / Nilai
Mekanisme KerjaSelf-Locking / Alternate Action (Ditekan mengunci, ditekan lagi lepas)
Rating Tegangan (Maks)

12V - 24V DC (Tipe Mini)


Hingga 250V AC (Tipe Panel Mount)

Rating Arus (Maks)

0.1A - 0.5A (Tipe Mini)


2A - 5A (Tipe Panel Mount)

Resistansi KontakBiasanya < 50 mΩ (Sangat kecil, arus mengalir lancar)
Resistansi Isolasi> 100 MΩ (Aman dari kebocoran arus)
Siklus Hidup (Mekanikal)100.000 hingga 500.000 kali tekanan
Suhu Operasi-25°C hingga +85°C


    5. LED

Parameter TeknisSpesifikasi / Nilai
Arus Operasi Normal ($I_f$)10 mA – 20 mA (Sangat disarankan beroperasi di ~15mA)
Arus Puncak Maksimal~30 mA (Lebih dari ini LED bisa terbakar/putus)
Tegangan Maju ($V_f$) - Merah / Kuning1.8V – 2.2V DC
Tegangan Maju ($V_f$) - Hijau / Biru / Putih3.0V – 3.4V DC
Tegangan Balik Maksimum ($V_r$)~5V DC (Batas aman jika polaritas terbalik)
Sudut Pandang Cahaya (Viewing Angle)

15° hingga 30° (Tipe clear/transparent)


~60° (Tipe diffused/doff)

Identifikasi Polaritas (Kaki)Kaki panjang = Anoda (+), Kaki pendek / sisi rata = Katoda (-)


    6. Buzzer

Parameter TeknisSpesifikasi / Nilai
Tegangan Operasi (VCC)4.0V hingga 7.0V DC (Optimal di 5V DC)
Konsumsi Arus (Maksimal)~30 mA (pada tegangan 5V)
Frekuensi Resonansi$2300 \text{ Hz} \pm 300 \text{ Hz}$ (Menghasilkan nada statis yang nyaring)
Tingkat Kekerasan Suara (SPL)$\ge 85 \text{ dB}$ (Diukur pada jarak 10 cm dengan input 5V)
Jenis Sinyal InputSinyal Digital DC (Kondisi HIGH = Bunyi, LOW = Mati)
Suhu Operasi-20°C hingga +70°C
Dimensi Standar (Diameter x Tinggi)~12 mm x 9.5 mm
Jarak Antar Pin (Pitch)7.6 mm (Cocok untuk standar breadboard atau perfboard)
Identifikasi PolaritasAda tanda (+) di bagian atas stiker/bodi, dan pin (+) lebih panjang
    7. Resistor
8. Sensor LDR
Parameter TeknisSpesifikasi / Nilai
Tegangan Operasi (VCC)3.3V hingga 5V DC
Konsumsi Arus~15 mA
Komponen Utama SensorPhotoresistor (LDR) berdiameter ~5 mm
IC Komparator bawaanLM393 (Untuk mengubah sinyal analog menjadi digital murni)
Sinyal OutputAO (Analog Output) dan DO (Digital Output)
Pengatur SensitivitasTrimpot / Potensiometer (Untuk mengatur batas ukur DO)
Indikator Bawaan

1x LED Indikator Power (Merah/Hijau)


1x LED Indikator DO (Menyala saat cahaya melebihi threshold)

Dimensi Modul~32 mm x 14 mm
Lubang Pemasangan (Mounting)~3 mm (Untuk baut/standoff)



4. Dasar Teori [Kembali]

1.ADC

ADC atau Analog to Digital Converter merupakan salah satu perangkat elektronika yang digunakan sebagai penghubung dalam pemrosesan sinyal analog oleh sistem digital. Fungsi utama dari fitur ini adalah mengubah sinyal masukan yang masih dalam bentuk sinyal analog menjadi sinyal digital dengan bentuk kode-kode digital. Pada mikrokontroler STM32, terdapat dua ADC (Analog-to-Digital Converter) 12-bit yang masing-masing memiliki hingga 16 kanal eksternal. ADC ini dapat beroperasi dalam mode single-shot atau scan mode. Pada scan mode, konversi dilakukan secara otomatis pada sekelompok input analog yang dipilih. Selain itu, ADC ini memiliki fitur tambahan seperti simultaneous sample and hold, interleaved sample and hold, serta single shunt. ADC juga dapat dihubungkan dengan DMA untuk meningkatkan efisiensi transfer data. Mikrokontroler ini dilengkapi dengan fitur analog watchdog yang memungkinkan pemantauan tegangan hasil konversi dengan akurasi tinggi, serta dapat menghasilkan interupsi jika tegangan berada di luar ambang batas yang telah diprogram. Selain itu, ADC dapat disinkronkan dengan timer internal (TIMx dan TIM1) untuk memulai konversi, pemicu injeksi, serta pemicu DMA, sehingga memungkinkan aplikasi untuk melakukan konversi ADC secara terkoordinasi dengan timer. Pada STM32 Nucleo G474RE, terdapat blok ADC (Analog-to-Digital Converter) yang digunakan untuk mengubah sinyal analog menjadi data digital. STM32 G474RE memiliki beberapa unit ADC (seperti ADC1, ADC2, ADC3, dan ADC4) yang memungkinkan proses konversi dilakukan secara paralel untuk meningkatkan kecepatan akuisisi data. Setiap ADC mendukung resolusi hingga 12-bit, dengan fitur tambahan seperti oversampling untuk meningkatkan akurasi dan mengurangi noise pada sinyal. Setiap unit ADC dapat mengakses banyak channel input yang terhubung ke berbagai pin GPIO, sehingga memungkinkan pembacaan berbagai sensor secara fleksibel. ADC pada STM32 G474RE juga dilengkapi dengan fitur scan mode untuk membaca beberapa channel secara berurutan, serta mode continuous conversion yang memungkinkan pembacaan data secara terus-menerus tanpa intervensi CPU. Selain itu, terdapat injected channel yang berfungsi sebagai channel prioritas untuk kebutuhan real-time. ADC ini juga mendukung berbagai sumber trigger, seperti timer (TIM) atau sinyal eksternal, sehingga dapat disinkronkan dengan modul lain seperti PWM untuk aplikasi kontrol tertutup (closed-loop). Proses konversi dilakukan melalui tahap sampling dan quantization, dengan hasil akhir disimpan pada register data ADC. Dengan fitur-fitur tersebut, ADC pada STM32 G474RE sangat cocok digunakan dalam aplikasi seperti pembacaan sensor, monitoring tegangan, serta sistem kendali berbasis sinyal analog yang membutuhkan kecepatan dan presisi tinggi.

B. PWM

PWM (Pulse Width Modulation) adalah salah satu teknik modulasi dengan mengubah lebar pulsa (duty cylce) dengan nilai amplitudo dan frekuensi yang tetap. Satu siklus pulsa merupakan kondisi high kemudian berada di zona transisi ke kondisi low. Lebar pulsa PWM berbanding lurus dengan amplitudo sinyal asli yang belum termodulasi. Duty Cycle adalah perbandingan antara waktu ON (lebar pulsa High) dengan perioda. Duty Cycle biasanya dinyatakan dalam bentuk persen (%).

Duty Cycle Ton Toff Ttotal = tON / ttotal = Waktu ON atau Waktu dimana tegangan keluaran berada pada posisi tinggi (high atau 1) = Waktu OFF atau Waktu dimana tegangan keluaran berada pada posisi rendah (low atau 0) = Waktu satu siklus atau penjumlahan antara Ton dengan Toff atau disebut juga dengan “periode satu gelombang” PWM pada STM32 dihasilkan menggunakan timer internal yang berfungsi sebagai penghitung waktu dengan berbagai mode operasi. Mikrokontroler ini memiliki empat timer 16-bit (TIM1–TIM4), yang dapat dikonfigurasi untuk menghasilkan sinyal dengan frekuensi dan duty cycle tertentu. Timer bekerja dengan menghitung hingga nilai tertentu berdasarkan frekuensi clock, lalu mengubah status register untuk menghasilkan gelombang persegi. STM32 memiliki 15 pin yang mendukung PWM, beberapa di antaranya berasal dari timer tingkat lanjut seperti TIM1, yang memiliki fitur tambahan seperti complementary output. Selain menghasilkan sinyal PWM, timer juga bisa digunakan untuk mengukur sinyal eksternal (input capture), menghasilkan sinyal berbasis waktu (output compare), dan membuat satu pulsa berdasarkan trigger (one pulse mode). PWM sering digunakan untuk mengontrol kecepatan motor, mengatur kecerahan LED, dan berbagai aplikasi berbasis waktu lainnya. Pada STM32 Nucleo G474RE, PWM dihasilkan melalui blok timer (TIM) yang terdiri dari beberapa jenis, seperti advanced-control timer (TIM1, TIM8), general-purpose timer (TIM2–TIM5), dan basic timer. Setiap timer memiliki beberapa channel yang dapat digunakan untuk menghasilkan sinyal PWM, sehingga memungkinkan banyak output PWM dikendalikan secara bersamaan pada berbagai pin GPIO. Timer pada STM32 G474RE umumnya memiliki resolusi hingga 16-bit atau lebih (tergantung jenis timer), dilengkapi dengan prescaler untuk pengaturan frekuensi yang presisi, serta register pembanding (CCR) untuk mengatur duty cycle dari 0–100%. Selain itu, setiap channel PWM dapat dikonfigurasi secara independen, baik dalam mode edge-aligned maupun center-aligned, sehingga cocok untuk aplikasi seperti kontrol motor dan konversi daya. STM32 G474RE juga mendukung fitur lanjutan seperti complementary output, dead-time insertion, break input, dan sinkronisasi antar timer, yang sangat penting dalam sistem power electronics dan inverter. Pengaturan PWM dapat dilakukan secara fleksibel melalui register timer atau menggunakan library seperti HAL/LL, serta dapat diaktifkan atau dihentikan secara terpusat, memungkinkan sinkronisasi beberapa sinyal PWM untuk aplikasi yang lebih kompleks dan presisi tinggi.

C. INTERRUPT

Interrupt adalah mekanisme yang memungkinkan suatu instruksi atau perangkat I/O untuk menghentikan sementara eksekusi normal prosesor agar dapat diproses lebih dulu seperti memiliki prioritas tertinggi. Misalnya, saat prosesor menjalankan tugas utama, ia juga dapat terus memantau apakah ada kejadian atau sinyal dari sensor yang memicu interrupt. Ketika terjadi interrupt eksternal, prosesor akan menghentikan sementara tugas utamanya untuk menangani interrupt terlebih dahulu, kemudian melanjutkan eksekusi normal setelah selesai menangani interrupt tersebut. Fungsi yang menangani interrupt disebut Interrupt Service Routine (ISR), yang dieksekusi secara otomatis setiap kali interrupt terjadi. Pada STM32F103C8, semua pin GPIO dapat digunakan sebagai pin interrupt, berbeda dengan Arduino Uno yang hanya memiliki pin tertentu (misalnya pin 2 dan 3). Untuk mengaktifkan interrupt di STM32 menggunakan Arduino IDE, digunakan fungsi attachInterrupt(digitalPinToInterrupt(pin), ISR, mode). Parameter pin menentukan pin mana yang digunakan untuk interrupt, ISR adalah fungsi yang dijalankan saat interrupt terjadi, dan mode menentukan jenis perubahan sinyal yang memicu interrupt. Mode yang tersedia adalah RISING (dari LOW ke HIGH), FALLING (dari HIGH ke LOW), dan CHANGE (baik dari LOW ke HIGH maupun HIGH ke LOW). Saat menggunakan lebih dari satu interrupt secara bersamaan, terkadang perlu memperhatikan batasan tertentu dalam pemrograman. Pada STM32 Nucleo G474RE, sistem interrupt merupakan mekanisme yang memungkinkan mikrokontroler merespons suatu kejadian (event) secara langsung tanpa harus terus-menerus melakukan polling. Dengan interrupt, CPU dapat menghentikan sementara proses utama untuk menjalankan fungsi khusus yang disebut Interrupt Service Routine (ISR), sehingga meningkatkan efisiensi dan respons sistem secara real-time. STM32 G474RE menggunakan NVIC (Nested Vectored Interrupt Controller) untuk mengatur berbagai sumber interrupt, seperti dari timer (TIM), ADC, UART, GPIO (external interrupt), dan periferal lainnya. Setiap sumber interrupt memiliki prioritas tertentu yang dapat diatur, sehingga memungkinkan penanganan beberapa interrupt secara bersamaan (nested interrupt). Selain itu, sistem ini mendukung preemption dan subpriority untuk pengelolaan interrupt yang lebih kompleks. Interrupt dapat dipicu oleh berbagai kondisi, seperti perubahan logika pada pin GPIO (EXTI), selesainya konversi ADC, overflow pada timer, atau penerimaan data komunikasi. Ketika interrupt terjadi, program akan lompat ke ISR yang sesuai, kemudian setelah selesai, eksekusi akan kembali ke program utama. STM32 G474RE juga menyediakan fitur enable/disable interrupt secara fleksibel melalui register maupun library seperti HAL. Dengan adanya interrupt, STM32 G474RE sangat cocok untuk aplikasi real-time seperti sistem kendali, monitoring sensor, komunikasi data, dan otomasi, karena mampu merespons kejadian penting dengan cepat tanpa membebani CPU secara terus-menerus. 


 A. BAGIAN-BAGIAN PENDUKUNG 
 1. STM32 NUCLEO G474RE 
 1. RAM (Random Access Memory) RAM (Random Access Memory) pada STM32 NUCLEO-G474RE digunakan sebagai memori sementara untuk menyimpan data selama program berjalan. Mikrokontroler STM32G474RET6 memiliki RAM sebesar 128 KB yang berfungsi untuk menyimpan variabel, buffer data, stack, dan heap. 
 2. Memori Flash Eksternal STM32 NUCLEO-G474RE tidak menggunakan memori flash eksternal. Seluruh program dan data permanen disimpan pada memori Flash internal mikrokontroler STM32G474RET6 dengan kapasitas 512 KB. Memori flash ini bersifat non-volatile, sehingga data dan program tetap tersimpan meskipun catu daya dimatikan.
 3. Crystal Oscillator STM32 NUCLEO-G474RE menggunakan osilator internal (HSI – High Speed Internal) sebagai sumber clock utama secara default. Penggunaan clock internal ini membuat board dapat beroperasi tanpa memerlukan crystal oscillator eksternal. Clock berfungsi sebagai sumber waktu untuk mengatur kecepatan kerja CPU dan seluruh peripheral. 
 4. Regulator Tegangan Untuk memastikan pasokan tegangan yang stabil ke mikrokontroler.
5. Pin GPIO (General Purpose Input/Output): Pin GPIO pada STM32 NUCLEO-G474RE digunakan sebagai antarmuka input dan output digital yang fleksibel 
 2. STM32 
 1. RAM (Random Access Memory) STM32F103C8 dilengkapi dengan 20KB SRAM on-chip. Kapasitas RAM ini memungkinkan mikrokontroler menjalankan berbagai aplikasi serta menyimpan data sementara selama eksekusi program.
 2. Memori Flash Internal STM32F103C8 memiliki memori flash internal sebesar 64KB atau 128KB, yang digunakan untuk menyimpan firmware dan program pengguna. Memori ini memungkinkan penyimpanan kode program secara permanen tanpa memerlukan media penyimpanan eksternal. 
 3. Crystal Oscillator STM32F103C8 menggunakan crystal oscillator eksternal (biasanya 8MHz) yang bekerja dengan PLL untuk meningkatkan frekuensi clock hingga 72MHz. Sinyal clock yang stabil ini penting untuk mengatur kecepatan operasi mikrokontroler dan komponen lainnya.
 4. Regulator Tegangan STM32F103C8 memiliki sistem pengaturan tegangan internal yang memastikan pasokan daya stabil ke mikrokontroler. Tegangan operasi yang didukung berkisar antara 2.0V hingga 3.6V. 
 5. Pin GPIO (General Purpose Input/Output) STM32F103C8 memiliki hingga 37 pin GPIO yang dapat digunakan untuk menghubungkan berbagai perangkat eksternal seperti sensor, motor, LED, serta komunikasi dengan antarmuka seperti UART, SPI, dan I²C.

0 comments:

Posting Komentar